WaNita Jadi Pemimpin ??????

Kepemimpinan adalah amanah, merupakan tugas yang tidak dapt disebut ringan.

Seorang Pemimpin akan bertanggung jawab akan seluruh jiwa yang berada di bawah kepemimpinannya, seluruh harta benda yang berada dibawah kekuasaannya. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda dalam hadis shahih.

Kullukum ra’in wa kullukum mas-uulun ‘an ra’iyyatihi”

Artinya “setiap orang diantara kalian adalah pemimpin dan masing-masing akan  dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Pemimpin rumah tangga bertanggung jawab penuh akan kesuksesan keluarganya, pemimpin desa akan bertanggung jawab akan warga desanya, begitu pula pemimpin sebuah negara pasti diminta pertanggungjawaban akan rakyatnya.

Siapakah yang boleh menjadi pemimpin ???

Semua yang memiliki kapasitas atau kafaah dibolehkan untuk menjadi seorang pemimpin tanpa melihat jenis kelamin seseorang, baik pria atau wanita, kecuali satu hal yaitu kepemimpinan negara (presiden). Wanita boleh menjadi wakil presiden, menteri kabinet, gubernur, buupati apalagi hanya sebuah organisasi kemasyarakatan atau kemahasiswaan.

Apa landasan syariat pernyataan di atas ????

Sebuah hadis Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam tiga tempat pada kitab sahihnya

Lan yufliha qaumun walluu amrahum imra-atan”

Artinya : “Pasti tidak akan beruntung suatu bangsa yang menyerahkan urusan mereka kepada seorang wanita.

Yuk kita pahami hadis ini.

Kalimat “lan” artinya sekali-kali tidak akan, “qaumun” dalam kosa kata bahasa Arab termasuk nakirah yaitu kaum yang masih bersifat umum maksudnya berlaku untuk semua kumpulan masyrakat, pada setiap masa hingga hari kiamat nanti. Begitu juga “imra-atan” artinya seorang wanita, yaitu setiap wanita dari etnis mana saja, pada masa kapan saja, dengan kecerdasan setinggi apapun juga. Kesimpulan hadis ini adalah bahwa seorang wanita hendaknya tidak menjadi pemimpin negara jika ia menginginkan kemajuan, keberuntungan bagi orang banyak.

Adapun pengkhususan jabatan presiden, kita tarik dari sebab keluanya hadis, yaitu ketika raja Romawi tewas ditangan penghianat kerajaan, ia tidak memiliki putra mahkota untuk memimpin kerajaan sepeninggalannya. Ia hanya memiliki putri yang bernama Nouran yang kemudian dinobatkan menjadi raja. Mendengar hal itu Raulullah saw mengeluarkan sabda beliau diatas. Dengan begitu terbentuklah ijma bahwa wanita hendaknya tidak menjadi presiden. SEdangkan selain kepemimpinan di atas tidak ada landasan yang kuat unuk melarang wanita menjadi top leader.

wallahu’alam.

1 Komentar »

  1. Rinì said

    yg bener rowawi ato persia y? td br bc artikel, hadis turun krn d persia sdg ada p’angkt’n ratu sbg pmimpin negr.

RSS feed for comments on this post · TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: